[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Senin, 30 Oktober 2017

Memalam Di Ingin Ku Menyerah

Bagaimana menurutmu? Akan masa depan seorang lelaki yang menghabiskan buah ejekan dari sebuah telaga masa lalu? Masa-masa dimana mendapati dirinya dapat tertidur dengan nyenyak di awal malam hingga pagi menjelang itu, berikutnya sering terjaga karena mengingati sewajah indah yang mengusiknya sejak pandangan pertama, Membuat kedua matanya enggan terpejam hingga saat ini.

            Wajah indah itu hadir ketika dirinya hendak beranjak dewasa. Saat mulai bertanya-tanya akan arti kehadirannya di dunia, akan makna kehadirannya dalam keluarga, makna penampakan tampangnya di depan teman-teman bermain, dan semua itu terampas begitu saja oleh ujung pertanyaan besar dalam dirinya, “siapa pemilik wajah indah itu? Dan apa arti kehadirannya di hadapan pemilik wajah indah itu?”.

            Tidak banyak ia lihat binar-binar ceria dari wajah indah itu, namun justru itu yang membuatnya ingin terus mereguk pemandangan sosoknya hingga memasuki ruang-ruang kosong dari jiwanya itu.

            Tidak banyak kata dalam gerak bibirnya, tapi itulah yang justru membuatnya selalu ingin mengenang wajahnya.

            Di malam-malam memabukan dari kucuran telaga kenangan itu, tidak ia terima begitu saja. Ia ingin melawan, sangat ingin! Tapi semakin ia melawan, semakin ia merasakan kekalahan. Entah bagaimana lelaki itu jadi merasakan begitu rapuh terhadapnya. Hingga sebuah pertanyaan lagi menyusul tanpa menunggu sejenak dari sesaknya pertanyaan-pertanyaan lalu yang belum terjawab, “apa arti seseorang yang kalah dalam kehidupan ini?” teriak batinnya kini memenuhi rongga jiwa.

            Apa arti hidup dari seorang manusia yang tak berdaya dalam kehidupan ini? seseorang yang tal berdaya karena mereguk suatu keindahan dari sewajah sayu itu? Hingga siang-siang ia merasakan hampa, meski telah berkali-kali ditampar kenyataan yang seharusnya membuat ia bangun dan tersadar.

            Ia resah, gusar, karena menyadari suatu anomali hati telah berlaku dalam jiwanya. Ia marah, menangis, karena semua yang dipikirnya sebelumnya begitu berharga dan damai tidak lagi memberikan makna. Hingga suatu saat dimana titik jenuh kekalahannya itu memuncak, sebuah kabar dari manuskrip langit tebuka dan berkata-kata padanya, “simpanlah kejadian itu sebagai pelajaran besar dalam hidupmu... Itulah fitrah cinta, dimana saat melawannya kau seperti melawan pemilik jiwamu sendiri, tiada yang dapat melawan segala yang telah ditentukanNya, maka bersabarlah!”
            “Dan jangan kau campurkan kekalahan itu dengan dendam dan amarah, hanya karena kau tidak mampu bersabar merasakan sakit dari suatu ketentuan yang telah berlaku, karena semua... pun bersusah payah melewatinya.
            Menyerahlah! Menyerahlah dengan iklash dan sepenuhnya, semoga Pemiliknya akan menuntunmu dengan kasih sayang..
            Menyerahlah! Taslim! Dan berbahagialah wahai para muslim..”


”Abaikan saja, orang jahil yang dengan berani meramal-ramal masa depanmu.."

Bandung,