[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Selasa, 24 Oktober 2017

Tangisan Pertama

Sayang, masih terasa ajaibnya bagaimana anak pertama kita lahir ke dunia. Saat itu aku mengaduh sekuatnya, kau pun terlihat paling pucat dari semua yang menyaksikan, lalu terdengarlah jerit tangis penerus kita untuk pertama kalinya hadir didunia.

Ingatkah sayang? Saat itu kau berkata penuh panik dan khawatir semenjak pembukaan pertama sebelum melahirkan, dimana aku mengaduh dengan suara yang tidak pernah kau dengar sebelumnya. Bila sebelumnya kau pernah berkata salah satu kecantikanku adalah selalu berbicara lirih, maka saat itulah diri ini lupa, atau tepatnya mengabaikan bagaimana menetapi diri untuk menjadi sebagaimana yang engkau suka. Maaf, itulah kenyataan.

Rasanya mau melahirkan memang begitu sakit, hingga harapan dan putus asa serasa beririsan silih berganti. Berganti-ganti begitu cepat, antara harapan ingin bertemu dengan bayi kita dan berputus asa karena rasa sakit yang tidak terperi. Kau ingat? Saat itu kau pun terus mengingatkanku untuk terus berdikir, dengan pesan pesan lirih membisiki telinga kananku. Namun, nyatanya kau dapati hanya hardikanku, dan memang saat itu terasa tiada berguna lagi segala suara. Terus saja meraja dalam diriku; bagaimana harapan ingin segera melahirkan dan rasa sakit itu berganti dengan cepat. Keimananku benar-benar diujung tanduk suamiku; akan kepercayaan kita bahwa Sang Penciptalah Yang berbuat, hakikatnya Ia yang mengeluarkan sesosok manusia keluar dari perut manusia.

Sayangku, suamiku, peminpin bahtera rumah tanggaku. Kita saat itu mendapati bagaimana kadar kualitas jiwa kita sebenarnya, jika saja tidak Alloh selamatkan, mungkin saja diri kita meninggal disaat berputus asa akan ujian-Nya. Naudzubillah.

Sayang, bahkan bila aku mengingatnya kembali bagaimana saat prosesi kelahiran anak kita saat itu, hanya akan membuatku trauma. Sungguh.

Disaat itu semua kata-kata manismu seakan menguap begitu saja, segala kelakar segar dan keilmuan yang kau ajarkan terasa hambar. Tetap saja, keyakinan yang Alloh karuniakan saja yang menjawabnya, lalu disitulah bagaimana pertanyaan murabbi kita kini terjelaskan; bahwa nikmat terbesar dalam hidup itu ialah nikmat Iman. Tepatnya "Nikmat iman dan nikmat Islam," Katamu, jika kuingat lagi.

Sayangku, suamiku, peminpin hidupku. Teruslah bicarakan keajaiban itu, bagaimana suatu doa adalah ajaran langit sebagai kuncinya. Meski kau lihat diri ini kerap kau lihat jenuh mendengarnya, kerap tertidur disaat kau jelaskan suatu hikmah fikih dengan panjang lebar, meski kerap pula kau jumpai tidak membekas dalam ingatanku. Namun ada saat dimana semua itu sangat berguna, terasa nyata, hingga mengukuhkan pengetahuan menjadi suatu keyakinan. Sebagaimana katamu; "Alloh saja yang memberi rezky ilmu dan kefahaman, untuk itulah rosul yang mulia mengajarkan sebentuk doa sebelum belajar; Rabbi jidni ilman, warjukni fahman".

"lalu taukah keajaiban apa yang ku temukan dari prosesi kelahiran itu?" Katamu seketika, saat itu kulihat kaupun ingin mengutarakan banyak hal, meski kita baru saja sampai sepulang dari klinik persalinan.

"Anak kita, anak kita lahir dengan kepala dahulu. Kau tahu bagaimana tengkorak anak kita itu? Bentuknya seperti mentimun buncit, lalu berubah membulat setelah sepenuh keluar. Kata dokter, memang saat itu tengkorang bayi terbuka sedikit." Kau terdiam beberapa saat untuk menarik nafas, aku ikut tertegun menanti ceritamu selanjutnya.

"Tengkorak bayi terbuka sedikit, dengan ukuran sangat tepat. Maksudnya, jika saja tengkorak itu tidak terbuka untuk melonjong; maka hancurlah kepala bayi kita karena menabrak kerangka panggulmu yang keras. Dan bila bila tengkorak kepalanya terbuka terlalu lebar, maka isi otak yang akan menonjol keluar, bahkan bisa merobek kulit kepala karena terdesak. Maha suci Alloh, kepala tiap bayi yang lahir terbuka di bibir rahimmu lalu menutup kembali melindungi isi kepalanya! Ajaib! Alloh Maha Besar, kenyataan jelas sekali kulihat; bagaimana Ia Yang Maha Lembut menciptakan satu titik keamanan dengan membukanya tengkorak bayi dari dua sisi yang begitu mematikan!. Jika semua terjadi tanpa kehendaknya, siapa yang menghendaki semua itu penuh perhitungan?!" kau terdiam, kita benar-benar terdiam. Hening.

Hingga akhirnya suara tangis pecah dikeheningan malam, kita baru tersadar bahwa kini ada satu pendatang baru yang menjadi bagian keluarga kita. Setelah mendapati asi, ia tertidur kembali dengan lahap menghisap air susu yang entah bagaimana pula menjadi subur melimpah.

"Mmm, sayang. Menurutmu, kenapa setiap bayi terlahir menangis ya?" Katamu seketika, dengan wajah serius masih terus melihat bagaimana bayi tengah menghisap lahap asi dalam buaianku.

"Entahlah Pah, mungkin sakit, mungkin karena saking nyamannya berada didalam rahim sebelumnya. Yang pasti, belum pernah ada seorang bayi bersaksi bagaimana perasaannya ketika detik-detik ia dilahirkan" Aku menjaqab agak kesal, tidak perrcaya, bagaimana pertanyaan anehmu kembali kudengar lagi kini. Ingin sekali tertawa, hanya saja ada seorang bayi yang tengah tertidur kini, tahan saja, cukup tertawa dalam hati.

#Tsabita, doa seorang ibu